Rapor Vendor Smartphone Q1 2019

Tahun 2019 diharapkan bisa membawa perubahan yang lebih baik bagi vendor smartphone. Sebab, beberapa triwulan sebelumnya angka pengiriman smartphone terus turun. Misalnya saja data pengiriman smartphone global pada triwulan akhir 2018 menurut catatan IDC hanya 375.4 juta unit. Angka itu turun sebesar 4.9% dibanding periode kuartal terakhir pada 2017.

Perkembangan teknologi seperti adopsi generasi teknologi 5G dan perubahan dari sisi desain smartphone yang lebih revolusioner dianggap sebagai hal positif yang bakal menopang pertumbuhan. Sayangnya, itu belum terjadi pada triwulan pertama (Q1) 2019 ini. IDC mencatat vendor smartphone mengirimkan total 310,8 juta smartphone di seluruh dunia, turun 6,6% dari 332,7 juta unit yang diraih pada triwulan pertama 2018.

Meski demikian, beberapa vendor tetap mengalami pertumbuhan pengiriman, seperti halnya Huawei dan Vivo. Huawei bahkan kembali menyalip Apple di posisi kedua. (lihat table). Posisi teratas tetap dipegang oleh Samsung. Huawei mempertahankan posisi kedua di Q3 2018, tetapi Apple kemudian mendapatkan kembali posisi keduanya di Q4 2018.

Posisi Tiga Besar Samsung, Huawei dan Apple

Dari table pengiriman terlihat Samsung kehilangan 0,4 poin (dari 23,5% menjadi 23,1%) dengan total pengiriman 6,3 juta lebih sedikit smartphone (71,9 juta). Samsung biasanya mengantongi sekitar seperlima pasar, dan itu tetap tidak berubah. Sepertinya Galaxy S10 dan Galaxy S10 + berhasil dengan baik selama kuartal ini, tetapi Samsung kalah di pasar menengah dan rendah.

Posisi Huawei naik 7,2 poin, menyentuh 19,0% pangsa pasar. Ini adalah raihan terbesar untuk melompati Apple, dan juga yang mendekati posisi Samsung. Huawei berhasil memepet Samsung bahkan sebelum Huawei memamerkan prestasi pengiriman P30 dan P30 Pro. Perangkat flagship Huawei terus mengalami permintaan yang kuat, juga merek Honor-nya yang dijual melalui saluran online. Di Cina khususnya, Huawei memiliki portofolio yang lengkap untuk semua segmen.

Sementara itu, pangsa Apple turun 4,0 poin (dari 15,7% menjadi 11,7%), boleh jadi ini disebabkan karena Apple mengalihkan fokusnya ke layanan. Para pesaing terus menggerogoti pangsa pasar Apple, dan mengingat bahwa Apple hingga saat ini tidak memiliki strategi 5G, kemungkinan posisinya tidak berubah pada tahun ini. Namun, penyelesaian Apple dengan Qualcomm dapat mengubah strategi smartphone-nya pada tahun 2020.

Dominasi Cina

Dibandingkan perolehan tahun lalu pada triwulan yang sama, posisi Xiaomi sedikit mengalami penurunan yakni 0,4 poin (menjadi 8,0%), sementara Vivo tumbuh 1,9 poin (menjadi 7,5%), dan Oppo tetap datar (7,4%). Ketiganya berjuang keluar menjadi menempati lima besar dan Xiaomi untuk saat ini meraih posisi keempat tepat di bawah Apple.

Kondisi pasar saat ini terbentur pada kenyataan bahwa konsumen yang memiliki jeda waktu yang lebih lama dalam mengganti smartphone. Tetapi ketika mereka ingin melakukannya, atau ketika pembeli pertama kali ingin mencari smartphone, mereka semakin mempertimbangkan produsen asal Cina. Ini berkat racikan harga dan fitur yang ditawarkan yang dirasa lebih affordable.

"Semakin jelas bahwa Huawei berfokus pada pertumbuhan perangkat seluler, dengan smartphone menjadi daya dorong utamanya," kata wakil presiden program IDC Ryan Reith dalam sebuah pernyataan. “Pasar smartphone secara keseluruhan terus mengalami tantangan di hampir semua wilayah, namun Huawei mampu meningkatkan pengiriman hingga 50%, tidak hanya meraih pangsa pasar nomor dua, tetapi juga memperkecil celah dengan sang pemimpin pasar Samsung.

Huawei Incar Posisi Pertama

Berhasilnya Huawei memperkecil jarak dengan Samsung, kini raksasa teknologi asal Cina itu berambisi merebut posisi pertama pada tahun depan. Kesuksesan Huawei ini diyakini berkat investasi yang konsisten dan masif di bidang riset dan pengembangan. Salah satu strateginya adalah dengan menginvestasikan lebih dari 10 persen pendapatan setiap tahunnya. Pencapaian ini telah menempatkan Huawei dalam 5 besar investasi R&D global. Huawei Consumer BG berkomitmen untuk menciptakan nilai melalui inovasi tanpa henti, yang ujung-ujungnya memberikan benefit bagi pelanggan.

“Secara global, kerja keras kami telah menunjukkan hasil yang memuaskan,” tutur Lo Khing Seng, Deputy Country Director Huawei Device Indonesia, dalam acara buka puasa bersama media di Jakarta, hari ini (16/5/19). Dan kini Huawei mengincar posisi pertama dengan terus meningkatkan penjualan di tengah penurunan market smartphone global.

Di Indonesia, Huawei juga meningkatkan ketersediaan produk premium dengan cara memperpendek gap antara peluncuran global dan lokal. Dimulai sejak peluncuran Huawei Mate 20 Series, kemudian makin ditingkatkan lagi pada saat peluncuran Huawei P30 Series. Tak hanya memperpendek gap, Huawei bahkan sudah mengumumkan pre-order di market Indonesia, hanya sehari setelah peluncuran global di Paris.

Hasil penjualan Huawei P30 Pro meningkat luar biasa, mencapai 1000 persen dibandingkan penjualan Huawei P20 Pro. “Ini pencapaian yang dahsyat, yang semakin meningkatkan kepercayaan diri kami dalam mencapai target menjadi yang teratas khususnya di market premium di Indonesia dan merebut nomorsatu di dunia,” tutur Lo Khing Seng.

Tantangan Huawei

Niat Huawei untuk merebut posisi teratas pasar smartphone global tampaknya bakal sedikit terhambat. Hal ini disebabkan kejadian yang tak terduga dimana Amerika Serikat (AS) beberapa waktu lalu menjatuhkan sanksi dagang terhadap Huawei. Sansksi tersebut membuat posisi Huawei bakal menemui jalan terjal sebab perusahaan AS dilarang berbisnis dengan perusahaan berlogo bunga lili merah itu.

Kebijakan itu langsung diamini oleh Google.  Minggu lalu (19/5) Google sempat dilaporkan bakal membekukan hubungan bisnis dengan Huawei dan ini berarti akan menyulitkan pengembangan smartphone Huawei ketika Google sang pemiliki Android tak lagi mendukung perangkat besutan Huawei. Misalnya saja, update secara berkala pada perangkat Android yang bakal terhambat dan juga aplikasi serta layanan seperti Play Store, Gmail dan lainnya yang tak disediakan.

Namun pihak Huawei juga menyatakan bahwa tak ada yang perlu dikuatirkan dengan produk smartphone mereka. “Huawei akan terus memberikan pembaruan keamanan dan layanan purna jual untuk semua produk smartphone dan tablet Huawei dan Honor yang ada yang mencakup yang telah dijual atau yang masih ada sebagai stok secara global. Kami akan terus membangun ekosistem perangkat lunak yang aman dan berkelanjutan, untuk memberikan pengalaman terbaik bagi semua pengguna secara global.” Begitu bunyi tanggapan Huawei.

Beruntungnya, tak lama setelah itu AS akhirnya menangguhkan sanksi tersebut untuk 90 hari ke depan. Sehingga kebuntuan itu kini kembali mencair. Masa tiga bulan ini sangat penting bagi Huawei karena beberapa produknya sudah siap dirilis ke pasar. Meskipun Huawei juga masih was-was menghadapi masa setelah tiga bulan ke depan. Apakah sanksi tersebut akan kembali diberlakukan atau akan terus mencair.

Tetapi, jika berkaca pada pengalaman ZTE yang juga pernah mengalami hal yang sama, sanksi tersebut sepertinya tak akan berlangsung lama. Sebab dampaknya tidak hanya akan menimpa Huawei, tetapi juga perusahaan asal AS itu sendiri.

Jadi, jika sanksi AS terhadap Huawei bisa dihindari, maka bukan tidak mungkin Huawei bakal menemukan jalannya untuk merebut posisi teratas sebagai pemegang pangsa pasar global, tetapi jika tidak, maka pertumbuhan Huawei akan terhambar dan akan menjadi berkah bagi para pesaingnya. (*)

Sumber: tabloidpulsa.co.id

Sumber Image: tabloidpulsa.co.id / IDC

Komentar

Artikel Terkait

Minggu, , 22 September 2019 - 19:57 WIB

3 Smartphone Baru Ini Siap Beredar di Pasaran

Sabtu, , 21 September 2019 - 06:39 WIB

5 Smartphone Sejutaan Penantang Samsung Galaxy A10s

Kamis, , 12 September 2019 - 00:09 WIB

Huawei Luncurkan WiFi Q2 Pro