KPK Akui Sulit Cari Harun Masiku, Demokrat Minta KPK Gelar Sayembara Berhadiah Bagi 260 Juta WNI

itoday - Ketua KPK Firli Bahuri sempat menegaskan bahwa mencari tersangka kasus suap Komisioner KPU, Harun Masiku, bak mencari jarum di tumpukan jerami.

Pernyataan Firli ini disesalkan banyak pihak. Bahkan tidak sedikit yang meragukan kesungguhan KPK memburu politisi PDIP itu.

Wasekjen Partai Demokrat Rachland Nashidik secara khusus meminta Kapolri Jenderal Idham Azis untuk membantu KPK memburu Harun Masiku.

“Jenderal Polisi Idham Azis adalah reserse kawakan. Sebelum dimandati menjadi Kepala Kepolisian RI, ia adalah Kepala Badan Reserse. Mestinya, demi merawat kewibawaan hukum dan kepercayaan publik pada Polisi, Jenderal Idham bisa menawarkan bantuan kepada KPK mencari Harun Masiku,” tulis Rachland di akun Twitter @RachlanNashidik.

Rachland berharap, Idham Azis menggunakan waktu sebelum pensiun untuk tidak berpangku tangan memburu Harun Masiku.

“Saya dengar setahun lagi Jenderal Idham pensiun. Waktu yang sangat singkat untuk melakukan kebaikan-kebaikan. Tapi waktu yang sangat panjang untuk berpangku tangan. KPK sudah terus terang mengaku kesulitan mencari Harun. Jenderal Idham akan memilih kebaikan atau berpangku-tangan?,” tambah @RachlanNashidik.

Geram dengan kelambanan KPK itu, politisi Demokrat Alkautsar meminta KPK untuk menggelar sayembara berhadiah memburu Harun Masiku.

“Jika KPK sulit menemukan Harun Masiku, mungkin KPK bisa menempuh langkah sayembara. Kurang lebih 260 juta warga Indonesia baik yang berada di Indonesia maupun luar negeri tentu sangat mudah mencarinya. Tinggal dipotek aja sedikit anggarannya untuk sayembara tersebut. Hehe,” tulis Alkautsar di akun @AlkautsarIZ.

Sebelumnya, peneliti Indonesia Corruption Watch (ICW) Kurnia Ramadhana menilai, pernyataan Firli bahwa mencari Harun bak mencari jarum di tumpukan jerami semakin menunjukan KPK tidak mampu menangkap tersangka korupsi itu dalam waktu cepat.

"Pernyataan ini terlalu berlebihan dan semakin menunjukkan ketidakmampuan KPK dalam menangkap yang bersangkutan dalam waktu cepat," kata Kurnia seperti dikutip tempo.co (28/01).

Kurnia menganggap KPK harusnya bisa lebih mudah menangkap Harun karena tersangka penyuap Komisioner KPU Wahyu Setiawan ini telah berada di Indonesia. Kurnia mengingatkan KPK sebelumnya mampu menangkap mantan Bendahara Partai Demokrat yang sempat kabur ke Kolombia. "Namun kenapa Harun yang jelas-jelas sudah di Indonesia saja tidak mampu segera diproses?" tanya Kurnia.

Komentar

Artikel Terkait