Institut Ecosoc: Pemerintah RI Payah dan Parah! Main Kata-kata, Sembunyikan Kebijakan cari Murah

itoday - Pemerintah Pusat bermain kata-kata untuk sembunyikan kebijakannya yang cari gampang dan cari murah. Resiko atasi pandemi Covid 19 lebih banyak dibebankan ke warga dan pemerintah daerah.

Kesimpulan Institut Ecosoc Rights itu tertulis di akun Twitter @ecosocrights. ”Indonesia bermain kata-kata untuk sembunyikan kebijakan pemerintahnya yang cari gampang dan cari murah. Risiko atasi pandemi lebih banyak dibebankan ke warga dan pemerintah daerah. Pemerintah Indonesia payah dan parah. Ibaratnya, nggak puasa tapi mau duluan merayakan Lebaran,” tulis @ecosocrights.

Institut Ecosoc Rights (IER) juga menyimpulkan efek negatif dari penerapan “new normal” pada kesehatan masyarakat.

“Mana ada ekonomi kalau kesehatan warganya terancam,” tulis @ecosocrights menanggapi tulisan bertajuk “Menimbang New Normal Senjata Jokowi Pulihkan Ekonomi?”.

IER juga menyinggung kebijakan lockdown, di mana ahli biofisika Universitas Stanford dan peraih Nobel Michael Levitt mengatakan lockdown justru sebabkan lebih banyak kematian.

“Lock down memang bisa meningkatkan kematian kalau prasyaratnya tidak dipenuhi, seperti yang  dijalankan Indonesia: warga disuruh di rumah saja tapi sekaligus warganya disuruh nanggung sendiri ekonominya. Tanpa lock down bisa tidak banyak kematian kalau prasyaratnya dipenuhi, seperti Korea.  Indonesia?,” tulis @ecosocrights menanggapi akun @ZyeZykia yang menyitir pendapat Michael Levitt.

@ecosocrights menambahkan: “Negara yang terkena lagi setelah buka lock down dengan negara yang  bahkan belum mampu menurunkan kurva (atau bahkan belum menuju puncak) tapi sudah mau new normal itu beban masalahnya bedanya jauh sekali. Masalahnya di komitmen dan keseriusan pemerintahnya. Korea tanpa lock down, tapi serius.”

Sebelumnya, politisi PKS Mardani Ali Sera membuat kultwit soal kesiapan new normal di Indonesia. Mardani mengingatkan, di saat penyebaran Covid 19 masih tinggi dan vaksin belum ditemukan, penerapan new normal adalah bunuh diri massal.

“1. Bismillah, istilah ‘New Normal’ yang disampaikan Pak @jokowi Jumat pekan lalu bisa menjadi bencana besar jika dikendalikan tidak tepat. Salah bila kita gembar-gembor New Normal di saat penyebaran yang masih tinggi dan vaksin yang belum ditemukan. Bunuh diri massal namanya. #BencanaBesar,” tulis Mardani mengawali kultwit-nya.

Mardani mengingatkan agar pemerintah tidak mengeluarkan peraturan yang tidak konsisten. Misalnya, orang dilarang mudik tapi kendaraan boleh lewat dan bandara masih dibuka.

“9. Sederet keputusan tersebut justru berpotensi menimbulkan cluster baru penyebaran Covid-19. Oke melakukan protokol kesehatan, tapi siapa yang bisa menjamin hal tersebut dapat dilakukan dengan maksimal? Potensi pelanggaran amat besar. #BencanaBesar,” tulis @MardaniAliSera.

Komentar

Artikel Terkait

Telah dilihat : 221 kali

Latihan SOAL UN IPA SD bagian 6

Telah dilihat : 262 kali

Misteri Mustika Situ Angker Cibinong

Telah dilihat : 227 kali

Latihan SOAL UN IPA SD bagian 5

Telah dilihat : 2362 kali

Mudah Mengalikan Angka 12 | Fun Math